Eomma, Mianhae-yo!! :(
Title : Eomma, Mianhae-yo !!
Author : Lee Ae In (Inndahh Lestary)
Cast : Lee Donghae `Aiden Lee, Jessica Jung,
Aiden’s Mother`
Genre : Family, Sad
Rating :
All..
Note :
anyyeong haseyo... kali ini Author publis FF lagi,, kali ini FF nya bergenre
lain,, gak ada romancenya.. jangan bosan baca yaa.. FF ini dibuat terinspirasi
dari cerita hidup HanKang dalam drama `49 Days`, readers pasti masih inget sama
drama itu kan?? So...check it out..
HAPPY
READING!!
“Aiden, sarapan dulu sebelum ke sekolah”, kata
Ibu Aiden sambil berjalan masuk ke dalam kamar putranya saat Aiden sedang
bersiap-siap untuk ke sekolah.
“aku tidak lapar”, kata Aiden sinis lalu berjalan
keluar kamar tanpa menoleh sedikitpun ke arah ibunya.
“kalau begitu ibu buatkan bekal ya, tunggu
sebentar” kata ibunya sambil mengikuti Aiden sampai di ruang tengah.
“aku bilang tidak usah!! Aku tidak lapar!!”,
bentak Aiden pada Ibunya. Mata Ibu Aiden terlihat mulai berkaca-kaca.
“ya sudah. Cepat berangkat, nanti kau terlambat”,
ibu Aiden terlihat menahan air matanya dan mencoba untuk tersenyum.
Aiden pergi dari rumah dan berjalan menuju halte
bus yang tak juh dari rumahnya . terlihat sedikit penyesalan di wajahnya.
Sebenarnya Aiden juga tidak tega memperlakukan ibunya seperti itu, tapi ia
sudah terlanjur membenci ibunya.
Aiden Lee adalah siswa tingkat 3 di Neul Paran
High School (SMA Neul Paran). Aiden dan Ibunya hanya tinggal berdua di rumah
itu. Ayah dan Ibunya sudah berpisah sejak Aiden masih duduk di bangku SMP,
kemudian ayahnya menikah lagi dengan wanita lain dan pindah ke Amerika. Sejak
saat itu Aiden mulai membenci ibunya, dia merasa bahwa ayahnya pergi
meninggalkan mereka karena ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai
wanita karir yang lupa memperhatikan keluarga. Ibu Aiden adalah pemilik
restaurant yang cukup terkenal di Gangnam. Sedangkan ayahnya adalah seorag
arsitek di sebuah perusahaan ternama di Seoul. Ayah Aiden lebih banyak
mengerjakan pekerjaannya di rumah, sehingga Aiden lebih banyak meghabiskan
waktu bersama ayahnya di banding dengan ibunya. Maka dari itu kepergian ayahnya
membuatnya sangat terpukul.
Aiden berjalan di koridor sekolah menuju
kelasnya. Suasana sekolah sudah terlihat ramai.
“Aiden...yaakk..Aiden Lee”, teriak seorang siswi
dari belakang sambil berlari ke arah Aiden. Ia adalah teman sekelas Aiden,
namanya Jessica Jung, atau sering dipanggil Jessica..Aiden hanya menoleh
sebentar lalu kembali berjalan menuju kelasnya. Jessica menysulnya dari
belakang sambil berlari-lari kecil berusaha menyamai langkah Aiden.
Aiden adalah orang yang sangat tertutup. Di
sekolah, sangat sedikit yang ingin berteman dengannya karena sifatnya yang
dingin. Satu-satunya yang mau dekat dengannya adalah Jessica. Meskipun tak
jarang mereka bertengkar dan saling mencela satu sama lain.
Seperti itulah kahidupan sehari-hari Aiden yang
membosankan. Sampai pada suatu hari, Ibunya mengusulkan untuk melanjutkan
sekolahnya di Amerika saja dan tinggal di sana bersama ayahnya. Hal ini membuat
Aiden semakin marah. Ia beranggapan bahwa Ibunya berusaha membuatnya pergi agar
ibunya bebas mencari pria lain pengganti ayahnya. Disisi lain Aiden juga tidak
ingin mengganggu kehidupan ayahnya yang sudah bahagia dengan keluarga barunya.
Ibu Aiden mempunyai alasan sendiri mengapa ia memutusakn untuk melepaskan Aiden
ke Amerika, namun itu justru membuatnya menjadi semakin serba salah.
15 Oktober 2012
Hari ini adalah hari ulang tahun Aiden yang
ke-18. Ibu Aiden sengaja datang ke sekolah Aiden untuk membawakan sup rumput
laut, makanan kesukaan Aiden, karena seperti biasa Aiden tidak sarapan sebelum
ke sekolah. Namun ekspresi Aiden jika bertemu dengan ibunya sama seperti
biasanya, dingin..
“Aiden, ibu membawakan sup rumput kesukaanmu,
duduklah”, kata ibunya seraya menyuruh Aiden duduk di bangku sebelahnya. Aiden
tidak mendengarkan kata-kata ibunya, ia tetap saja berdiri dan menatap ke arah
lain. Ibu Aiden mencoba meraih tangan Aiden dan menyuruhnya duduk lagi, tetapi
Aiden justru menghempaskan tangan ibunya.
“baiklah, aku akan pergi ke Amerika seperti yang
ibu inginkan, ibu sudah puas sekarang?”, katanya dengan nada tinggi lalu pergi
meninggalkan ibunya. Ibu Aiden menangis tersedu-sedu. Jessica yang sedari tadi
melihat kejadian itu menghampiri ibu Aiden.
“halo, tante. Nama saya Jessica, saya teman
Aiden. Tante ibunya Aiden kan?”, kata Jessica memperkenalkan diri. Ibu Aiden
dengan cepat menghapus air matanya.
“kamu bnar teman Aiden?”, tanya ibu Aiden sedikit
heran, karena yang ia tahu, Aiden tidak punya teman di sekolah, apalagi seorang
siswa perempuan.
“iya, tante! saya teman sekelas Aiden, ah, itu
untuk Aiden ya?”, tanya Jessica melihat bekal yang dipegang ibu Aiden.
“iya, hari ini ulang tahun Aiden. Tante sengaja
membuatkan sup rumput laut kesukaannya. Tapi Aiden tidak mau memakannya”, kata
ibu Aiden dengan senyum penuh kepedihan di wajahnya.
“kalau begitu berikan padaku tante, aku bisa
pastikan Aiden akan menghabiskan supnya”, kata Jessica bersemangat.
“benarkah? Bagaimana caranya?”, tanya ibu Aiden.
“pokoknya serahkan saja pada sica tante. Kalo
soal ngatasin Aiden yang keras kepala, sica ahlinya”, kata sica disertai tawa
kecil.
“ah, baiklah”, ibu Aiden terlihat sedikit lega.
“kalau begitu sica pamit kembali ke kelas tante”,
pamit sica. Ibu aiden mengangguk. Sica kemudian kembali ke kelasnya.
Jam istirahat Jessica menantang Aiden bermain
Rubik, yang kala harus melakukan 1 perintah dari sang pemenang. Keberuntungan
berpihak pada Jessica pada saat ini. Aiden harus melaksanakan apa yang
diperintahkan Jessica.
Jessica memanggil Aiden ke halaman belakang
sekolah tempat ia bertemu dengan ibunya tadi. Jessica mengambil sup ruput laut
yang di bawa ibu Aiden.
“duduk!!”, perintah Jessica sedikit kasar pada
Aiden. Aiden menuruti saja perintah jessica. Jessica lalu membuka bekal tadi
dan menyuruh Aiden menghabiskannya.
“makan..!”, perintah Jessica.
“kau dapat makanan ini darimana?”, tanya Aiden
melihat makanan yang di hadapannya adalah bekal yang di bawa ibunya tadi.
“itu tidak penting, makan saja”, kata Jessica.
“tidak mau!!”, tolak Aiden.
“Yak, kau kalah bertaruh. Jadi kau harus menuruti
perintahku”, bentak Jessica.
“ahh,,ya ya..baiklah..baiklah..”, kata Aiden
mengalah.
“tapi kau harus berbalik, jangan melihatku
makan”, kata Aiden menyuruh Sica memutar badannya agar Sica tidak melihatnya
makan. Sica menurut saja. “awas kalau ngintip, aku tidak akan menghabiskan
makanannya”, ancam Aiden.
“iyaa..”, sica lalu memutar badannya membelakangi
Aiden.
Aiden mulai memakan sup buatan ibunya, ia makan
dengan sangat lahap. Aiden tersenyum di sela-sela makannya. Matanya pun mulai
berkaca-kaca. Ia begitu menikmati sup yang dibuatkan ibunya. Ibu Aiden yang
melihat anaknya makan begitu lahap dari jauh juga ikut tersenyum.
“Aiden, mengapa kau bersikap begitu kasar pada
ibumu tadi?, dia kan berniat baik ingin merayakan ulang tahunmu bersamanya? Apa
kau tidak merasa keterlaluan pada ibumu?”, tanya Jessica penasaran dengan
posisi masih membelakangi Aiden.
“bukan urusanmu!”, jawab Aiden ketus. Aiden lalu
berdiri meniggalkan Jessica.
“aku kan hanya bertanya, kenapa kau begitu
sinis?”, tanya Jessica kesal.
“Aku sudah selesai”, teriak Aiden dari jauh
sambil meninggalkan Jessica.
“yak, habiskan makanannya,..oh, sudah habis??
Cepat sekali??”, Jessica tekejut melihat isi bekal yang sudah kosong. Ia lalu
tersenyum.
“ternyata kau begitu suka makanannya, mengapa
tadi menolaknya? Dasar bodoh”, jessica menggerutu sendiri.
5 tahun kemudian
Aiden sudah kembali dari Amerika. Saat ini Aiden
sudah menjadi seorang arsitek muda. Ia kemudian pergi ke restaurant ibunya dulu
yang saat ini dikelola oleh pamannya. Sesampainya di restoran ia diambut oleh
pamannya. Kemudian pamannya mamanggil Aiden masuk ke ruangannya.
“duduklah”, kata tn. Park, paman Aiden
mempersilahkan.
“paman, bagaimana keadaan ibuku? Dia ada dimana
sekarang?”, tanya aiden pada tn. Park.
tn. Park tidak langsung menjawab, ia lalu
mendesah begitu berat.
“Ada apa paman? Apakah ibuku saat ini sudah
berada di luar negeri bersama kelurganya yang baru?”, tanya Aiden sinis.
“Aiden.. apakah kau begitu membenci ibumu? Tidak
bisakah kau hanya memaafkannya?”, tanya Tn. Park. Ia terlihat begitu sedih
dengan sikap Aiden.
“memangnya ada apa paman?”, tanya Aiden lagi.
“ibumu..ibumu sudah meninggal setahun yang lalu
Aiden”, kata-kata Tn. Park terhenti. Ia tak kuasa melanjutkannya.
“a..apa?? paman pasti bercanda.. apa yang sedang
paman bicarakan? Apakah paman mengira dengan berbohong seperti ini aku akan
memaafkan ibuku?”, bentak Aiden. Ada perasaan takut di hatinya. Ia takut kalau
yang dikatakan pamannya adalah keadaan ibunya yang sebenarnya.
“APA MAKSUD PAMAN??!!” lanjutnya.
“tenanglah Aiden.. paman akan menceritakan
semuanya”, Tn. Park mencoba menenangkan Aiden dan menceritakan semua yang
terjadi pada ibunya selama Aiden di Amerika.
“sebernarnya ibumu sakit parah Aiden”, Tn. Park
memulai certanya. “Ia menderita kanker Rahim, tapi ia merhasiakannya dari kita
semua. Ibumu tidak ingin membuatmu cemas dan sedih karena keadaannya.
Penyakitnya jugalah yang menjadi alasan ia memintamu melanjutkan sekolah di
Amerika. Ia tidak ingin kau melihatnya menderita karena penyakitnya”.
Aiden tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia
menangis mendengar cerita pamannya, tubuhnya menjadi lesu. Semua kekutannya
menghilang.
Tn. Park melanjutkan ceritanya, “Selama kau di
Amerika, ibumu sudah menjalani pengobatan di banyak tempat, akan tetapi tidak
ada hasil yang menjanjikan. Ibumu berkata kalaupun ia harus pergi ia tidak
merasa berat. ini karena kau membencinya jadi ia merasa bahwa kau tidak akan
sedih atas kepergiannya. Tapi sesungguhnya, ibumu sangat merindukanmu Aiden. Ia
berusaha begitu keras agar bisa hidup lebih lama sampai ia bisa bertemu
denganmu meskipun itu harus menjadi yang terakhir. Namun sayang, keinginan
ibumu tidak terwujud. Kami mecoba menghubungimu ke Amerika, tapi tidak bisa.
Aiden,berhentilah membenci ibumu. Perpisahannya dengan ayahmu bukanlah
sepenuhnya kesalahan ibumu. Ibumu sangat menderita di sisa-sisa hidupnya
Aiden.” tn. Park menghentikan ceritanya. Ia lalu mendekati Aiden yang tengah
menangis lalu memeluknya.
“Menangislah,..”, kata Tn. Park lagi..
“tolong antarkan aku ke makam ibu sekarang,
paman”, pinta Aiden.
“Baiklah”, kata pamannya.
Aiden berjalan menuju makam ibunya diantar oleh
Tn. Park. sesampainya di sana Tn. Park kembali ke mobil. Aiden duduk di samping
makam ibunya sambil menunduk dan menangis.
“Ibu.. maafkan Aiden , Bu. Selama ini Aiden
selalu kasar terhadap ibu, Aiden selalu membentak ibu. Maafkan Aiden, bu,,
Aiden banyak berdosa pada ibu. Selama ini Aiden menyia-yiakan kasih sayang ibu,
melimpahkan semua kesalahan pada ibu.. Maafkan Aiden, Bu. Aku mencintaimu
bu..aku merindukanmu..ibu..”..
Aiden menangis di makam Ibunya, menyesali semua
yang perbuatan yang telah dilakukannya selama terhadap ibunya. Aiden tertidur
di sana,. Ia berkali-kali memanggil nama ibunya dalam tidur sambil menangis.
Namun, semua itu tinggallah penyesalan. Aiden tidak bisa memutar waktu kembali
dan memperbaiki kesalahannya.
``THE END``
Gimana readers?? Gak menarik
ya? Please commentnya yaa... omen kalian sangat membantu..
Gomawoo.. :-):)
DON’T COPAS

Tidak ada komentar :
Posting Komentar