Annyeonghaseoyo.... terima kasih telah berkunjung ke blog kami ^^

Annyeonghaseoyo.... terima kasih telah berkunjung ke blog kami ^^
SM Family

Minggu, 23 Juni 2013

[Fanfiction] `Eomma, Mianhae-yo!!!` - Oneshoot

Eomma, Mianhae-yo!! :(


Title      : Eomma, Mianhae-yo !!
Author    : Lee Ae In (Inndahh Lestary)
Cast       : Lee Donghae `Aiden Lee, Jessica Jung, Aiden’s Mother`
Genre           : Family, Sad
Rating            : All..
Note       : anyyeong haseyo... kali ini Author publis FF lagi,, kali ini FF nya bergenre lain,, gak ada romancenya.. jangan bosan baca yaa.. FF ini dibuat terinspirasi dari cerita hidup HanKang dalam drama `49 Days`, readers pasti masih inget sama drama itu kan?? So...check it out..

HAPPY READING!!



“Aiden, sarapan dulu sebelum ke sekolah”, kata Ibu Aiden sambil berjalan masuk ke dalam kamar putranya saat Aiden sedang bersiap-siap untuk ke sekolah.
“aku tidak lapar”, kata Aiden sinis lalu berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikitpun ke arah ibunya.
“kalau begitu ibu buatkan bekal ya, tunggu sebentar” kata ibunya sambil mengikuti Aiden sampai di ruang tengah.
“aku bilang tidak usah!! Aku tidak lapar!!”, bentak Aiden pada Ibunya. Mata Ibu Aiden terlihat mulai berkaca-kaca.
“ya sudah. Cepat berangkat, nanti kau terlambat”, ibu Aiden terlihat menahan air matanya dan mencoba untuk tersenyum.

Aiden pergi dari rumah dan berjalan menuju halte bus yang tak juh dari rumahnya . terlihat sedikit penyesalan di wajahnya. Sebenarnya Aiden juga tidak tega memperlakukan ibunya seperti itu, tapi ia sudah terlanjur membenci ibunya.
Aiden Lee adalah siswa tingkat 3 di Neul Paran High School (SMA Neul Paran). Aiden dan Ibunya hanya tinggal berdua di rumah itu. Ayah dan Ibunya sudah berpisah sejak Aiden masih duduk di bangku SMP, kemudian ayahnya menikah lagi dengan wanita lain dan pindah ke Amerika. Sejak saat itu Aiden mulai membenci ibunya, dia merasa bahwa ayahnya pergi meninggalkan mereka karena ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai wanita karir yang lupa memperhatikan keluarga. Ibu Aiden adalah pemilik restaurant yang cukup terkenal di Gangnam. Sedangkan ayahnya adalah seorag arsitek di sebuah perusahaan ternama di Seoul. Ayah Aiden lebih banyak mengerjakan pekerjaannya di rumah, sehingga Aiden lebih banyak meghabiskan waktu bersama ayahnya di banding dengan ibunya. Maka dari itu kepergian ayahnya membuatnya sangat terpukul.

Aiden berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya. Suasana sekolah sudah terlihat ramai.
“Aiden...yaakk..Aiden Lee”, teriak seorang siswi dari belakang sambil berlari ke arah Aiden. Ia adalah teman sekelas Aiden, namanya Jessica Jung, atau sering dipanggil Jessica..Aiden hanya menoleh sebentar lalu kembali berjalan menuju kelasnya. Jessica menysulnya dari belakang sambil berlari-lari kecil berusaha menyamai langkah Aiden.

Aiden adalah orang yang sangat tertutup. Di sekolah, sangat sedikit yang ingin berteman dengannya karena sifatnya yang dingin. Satu-satunya yang mau dekat dengannya adalah Jessica. Meskipun tak jarang mereka bertengkar dan saling mencela satu sama lain.

Seperti itulah kahidupan sehari-hari Aiden yang membosankan. Sampai pada suatu hari, Ibunya mengusulkan untuk melanjutkan sekolahnya di Amerika saja dan tinggal di sana bersama ayahnya. Hal ini membuat Aiden semakin marah. Ia beranggapan bahwa Ibunya berusaha membuatnya pergi agar ibunya bebas mencari pria lain pengganti ayahnya. Disisi lain Aiden juga tidak ingin mengganggu kehidupan ayahnya yang sudah bahagia dengan keluarga barunya. Ibu Aiden mempunyai alasan sendiri mengapa ia memutusakn untuk melepaskan Aiden ke Amerika, namun itu justru membuatnya menjadi semakin serba salah.

15 Oktober 2012

Hari ini adalah hari ulang tahun Aiden yang ke-18. Ibu Aiden sengaja datang ke sekolah Aiden untuk membawakan sup rumput laut, makanan kesukaan Aiden, karena seperti biasa Aiden tidak sarapan sebelum ke sekolah. Namun ekspresi Aiden jika bertemu dengan ibunya sama seperti biasanya, dingin..
“Aiden, ibu membawakan sup rumput kesukaanmu, duduklah”, kata ibunya seraya menyuruh Aiden duduk di bangku sebelahnya. Aiden tidak mendengarkan kata-kata ibunya, ia tetap saja berdiri dan menatap ke arah lain. Ibu Aiden mencoba meraih tangan Aiden dan menyuruhnya duduk lagi, tetapi Aiden justru menghempaskan tangan ibunya.

“baiklah, aku akan pergi ke Amerika seperti yang ibu inginkan, ibu sudah puas sekarang?”, katanya dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkan ibunya. Ibu Aiden menangis tersedu-sedu. Jessica yang sedari tadi melihat kejadian itu menghampiri ibu Aiden.
“halo, tante. Nama saya Jessica, saya teman Aiden. Tante ibunya Aiden kan?”, kata Jessica memperkenalkan diri. Ibu Aiden dengan cepat menghapus air matanya.
“kamu bnar teman Aiden?”, tanya ibu Aiden sedikit heran, karena yang ia tahu, Aiden tidak punya teman di sekolah, apalagi seorang siswa perempuan.
“iya, tante! saya teman sekelas Aiden, ah, itu untuk Aiden ya?”, tanya Jessica melihat bekal yang dipegang ibu Aiden.
“iya, hari ini ulang tahun Aiden. Tante sengaja membuatkan sup rumput laut kesukaannya. Tapi Aiden tidak mau memakannya”, kata ibu Aiden dengan senyum penuh kepedihan di wajahnya.
“kalau begitu berikan padaku tante, aku bisa pastikan Aiden akan menghabiskan supnya”, kata Jessica bersemangat.
“benarkah? Bagaimana caranya?”, tanya ibu Aiden.
“pokoknya serahkan saja pada sica tante. Kalo soal ngatasin Aiden yang keras kepala, sica ahlinya”, kata sica disertai tawa kecil.
“ah, baiklah”, ibu Aiden terlihat sedikit lega.
“kalau begitu sica pamit kembali ke kelas tante”, pamit sica. Ibu aiden mengangguk. Sica kemudian kembali ke kelasnya.

Jam istirahat Jessica menantang Aiden bermain Rubik, yang kala harus melakukan 1 perintah dari sang pemenang. Keberuntungan berpihak pada Jessica pada saat ini. Aiden harus melaksanakan apa yang diperintahkan Jessica.

Jessica memanggil Aiden ke halaman belakang sekolah tempat ia bertemu dengan ibunya tadi. Jessica mengambil sup ruput laut yang di bawa ibu Aiden.
“duduk!!”, perintah Jessica sedikit kasar pada Aiden. Aiden menuruti saja perintah jessica. Jessica lalu membuka bekal tadi dan menyuruh Aiden menghabiskannya.
“makan..!”, perintah Jessica.
“kau dapat makanan ini darimana?”, tanya Aiden melihat makanan yang di hadapannya adalah bekal yang di bawa ibunya tadi.
“itu tidak penting, makan saja”, kata Jessica.
“tidak mau!!”, tolak Aiden.
“Yak, kau kalah bertaruh. Jadi kau harus menuruti perintahku”, bentak Jessica.
“ahh,,ya ya..baiklah..baiklah..”, kata Aiden mengalah.
“tapi kau harus berbalik, jangan melihatku makan”, kata Aiden menyuruh Sica memutar badannya agar Sica tidak melihatnya makan. Sica menurut saja. “awas kalau ngintip, aku tidak akan menghabiskan makanannya”, ancam Aiden.
“iyaa..”, sica lalu memutar badannya membelakangi Aiden.

Aiden mulai memakan sup buatan ibunya, ia makan dengan sangat lahap. Aiden tersenyum di sela-sela makannya. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Ia begitu menikmati sup yang dibuatkan ibunya. Ibu Aiden yang melihat anaknya makan begitu lahap dari jauh juga ikut tersenyum.
“Aiden, mengapa kau bersikap begitu kasar pada ibumu tadi?, dia kan berniat baik ingin merayakan ulang tahunmu bersamanya? Apa kau tidak merasa keterlaluan pada ibumu?”, tanya Jessica penasaran dengan posisi masih membelakangi Aiden.
“bukan urusanmu!”, jawab Aiden ketus. Aiden lalu berdiri meniggalkan Jessica.
“aku kan hanya bertanya, kenapa kau begitu sinis?”, tanya Jessica kesal.
“Aku sudah selesai”, teriak Aiden dari jauh sambil meninggalkan Jessica.
“yak, habiskan makanannya,..oh, sudah habis?? Cepat sekali??”, Jessica tekejut melihat isi bekal yang sudah kosong. Ia lalu tersenyum.
“ternyata kau begitu suka makanannya, mengapa tadi menolaknya? Dasar bodoh”, jessica menggerutu sendiri.

5 tahun kemudian

Aiden sudah kembali dari Amerika. Saat ini Aiden sudah menjadi seorang arsitek muda. Ia kemudian pergi ke restaurant ibunya dulu yang saat ini dikelola oleh pamannya. Sesampainya di restoran ia diambut oleh pamannya. Kemudian pamannya mamanggil Aiden masuk ke ruangannya.
“duduklah”, kata tn. Park, paman Aiden mempersilahkan.
“paman, bagaimana keadaan ibuku? Dia ada dimana sekarang?”, tanya aiden pada tn. Park.
tn. Park tidak langsung menjawab, ia lalu mendesah begitu berat.
“Ada apa paman? Apakah ibuku saat ini sudah berada di luar negeri bersama kelurganya yang baru?”, tanya Aiden sinis.
“Aiden.. apakah kau begitu membenci ibumu? Tidak bisakah kau hanya memaafkannya?”, tanya Tn. Park. Ia terlihat begitu sedih dengan sikap Aiden.
“memangnya ada apa paman?”, tanya Aiden lagi.

“ibumu..ibumu sudah meninggal setahun yang lalu Aiden”, kata-kata Tn. Park terhenti. Ia tak kuasa melanjutkannya.
“a..apa?? paman pasti bercanda.. apa yang sedang paman bicarakan? Apakah paman mengira dengan berbohong seperti ini aku akan memaafkan ibuku?”, bentak Aiden. Ada perasaan takut di hatinya. Ia takut kalau yang dikatakan pamannya adalah keadaan ibunya yang sebenarnya.

“APA MAKSUD PAMAN??!!” lanjutnya.
“tenanglah Aiden.. paman akan menceritakan semuanya”, Tn. Park mencoba menenangkan Aiden dan menceritakan semua yang terjadi pada ibunya selama Aiden di Amerika.
“sebernarnya ibumu sakit parah Aiden”, Tn. Park memulai certanya. “Ia menderita kanker Rahim, tapi ia merhasiakannya dari kita semua. Ibumu tidak ingin membuatmu cemas dan sedih karena keadaannya. Penyakitnya jugalah yang menjadi alasan ia memintamu melanjutkan sekolah di Amerika. Ia tidak ingin kau melihatnya menderita karena penyakitnya”.
Aiden tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia menangis mendengar cerita pamannya, tubuhnya menjadi lesu. Semua kekutannya menghilang.

Tn. Park melanjutkan ceritanya, “Selama kau di Amerika, ibumu sudah menjalani pengobatan di banyak tempat, akan tetapi tidak ada hasil yang menjanjikan. Ibumu berkata kalaupun ia harus pergi ia tidak merasa berat. ini karena kau membencinya jadi ia merasa bahwa kau tidak akan sedih atas kepergiannya. Tapi sesungguhnya, ibumu sangat merindukanmu Aiden. Ia berusaha begitu keras agar bisa hidup lebih lama sampai ia bisa bertemu denganmu meskipun itu harus menjadi yang terakhir. Namun sayang, keinginan ibumu tidak terwujud. Kami mecoba menghubungimu ke Amerika, tapi tidak bisa. Aiden,berhentilah membenci ibumu. Perpisahannya dengan ayahmu bukanlah sepenuhnya kesalahan ibumu. Ibumu sangat menderita di sisa-sisa hidupnya Aiden.” tn. Park menghentikan ceritanya. Ia lalu mendekati Aiden yang tengah menangis lalu memeluknya.

“Menangislah,..”, kata Tn. Park lagi..
“tolong antarkan aku ke makam ibu sekarang, paman”, pinta Aiden.
“Baiklah”, kata pamannya.

Aiden berjalan menuju makam ibunya diantar oleh Tn. Park. sesampainya di sana Tn. Park kembali ke mobil. Aiden duduk di samping makam ibunya sambil menunduk dan menangis.
“Ibu.. maafkan Aiden , Bu. Selama ini Aiden selalu kasar terhadap ibu, Aiden selalu membentak ibu. Maafkan Aiden, bu,, Aiden banyak berdosa pada ibu. Selama ini Aiden menyia-yiakan kasih sayang ibu, melimpahkan semua kesalahan pada ibu.. Maafkan Aiden, Bu. Aku mencintaimu bu..aku merindukanmu..ibu..”..
Aiden menangis di makam Ibunya, menyesali semua yang perbuatan yang telah dilakukannya selama terhadap ibunya. Aiden tertidur di sana,. Ia berkali-kali memanggil nama ibunya dalam tidur sambil menangis. Namun, semua itu tinggallah penyesalan. Aiden tidak bisa memutar waktu kembali dan memperbaiki kesalahannya.

``THE END``

Gimana readers?? Gak menarik ya? Please commentnya yaa... omen kalian sangat membantu..
Gomawoo.. :-):)
DON’T COPAS


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Sumber : http://yaqindlive.blogspot.com/2012/06/mengganti-tulisan-older-post-postingan.html#ixzz2WlKcPDGf