Annyeonghaseoyo.... terima kasih telah berkunjung ke blog kami ^^

Annyeonghaseoyo.... terima kasih telah berkunjung ke blog kami ^^
SM Family

Minggu, 23 Juni 2013

[ Fanfiction ] `Snow Heaven Chapter 1`


Snow Heaven

Author : Lee Ae In a.k.a Inndahh Lestary <3
Title : Snow Heaven
Cast : Choi Sulli
          Kim Jong In (KAI)
          Choi Min Ho
         Seo Jo hyun

Genre : Sad Romance (a Little bit),friendly, Family, Angst (?)
Length : Twoshoot? Belum ditentukan..
Rating :Teeneger
Note : hmmm..ini FF kedua author yang di publish di blog ini. Author terinspirasi membuat FF ini dari Drama yang mimin lupa judulnya. Hmmm... tapi terinspirasi bukan berarti mimin plagiat ya... yang jelas ceritanya akan ada banyak perbedaan dengan drama yang pernah mimin liat. Mian kalo typo bertebaran...DXDXD nggak usah banyak basa-basi, so check it out..

HAPPY READING !! ^^





Cuaca di Seoul malam ini sangat dingin. Seluruh permukaan jalanan tertutupi salju. Semua orang merapatkan mantel yang mereka pakai agar tetap hangat. Di seberang jalan terlihat Choi Sulli dan ibunya, Ny. Shin Min Young menghentikan taxi yang lewat dan menuju bandara. Setibanya di bandara, mereka langsung berjalan menuju ruang tunggu.
"Eomma, kapan mereka tiba?", tanya Sulli yang sudah terlihat tidak sabar menunggu.
"Sebentar lagi, mereka sudah hampir tiba", kata ibunya setelah melihat arloji di tangannya.
Tak lama kemudian operator bandara mengumumkan bahwa pesawat rute USA-Incheon sudah landing. Sulli dan ibunya langsung berdiri dan mengedarkan pandangan mereka, mencari orang yang telah mereka tunggu kedatangannya. Tak lama kemudian mata ibu Sulli tertuju pada dua namja yang berjalan ke arah mereka. satu orang lelaki paruh baya, Park Hyun Sik dan satu lagi namja yang masih muda, Kim Jong In, putra Tn. Park. KAI...begitulah orang orang memanggil Jong in. Sulli dan ibunya tersenym bahagia menyambut kedatangan keluarga baru mereka, Tn. Park membalas senyum mereka. Namun, lain halnya dengan Kai, namja itu hanya melihat ke arah lain dengan ekspresi muka datar.

Dalam perjalanan pulang, mereka berbincang cukup lama. Sesekali mereka tertawa jika ada pembahasan yang dianggap lucu. Tn. Park duduk di jok depan sejajar dengan pengemudi taxi, sedangkan Sulli , Ny. Shin dan Kai duduk di jok belakang. Kai terlihat tidak tertarik bergabung dalam perbincangan mereka. Ia hanya menatap jalanan yang permukaannya tertutup salju dengan tatapan hampa. Seolah-olah hanya raganya yang ada di tempat itu, namun tidak dengan hati dan pikirannya. Diam-diam Sulli memperhatikan tingkah 'Oppa' barunya itu. Ya, Oppa, meskipun mereka memiliki umur yang sama, naun tetap saja Kai sedikit lebih tua dari Sulli .
Untuk sampai ke rumah Sulli , mereka harus berjalan kaki sekitar ±200 m. Tn. Dan Ny. Park berjalan di depan, Sulli mengikuti mereka dari belakang. Kai? Dia sudah tertinggal jauh di belakang karena berjalan sangat pelan. Sulli memperhatikan kakaknya dari jauh, ia heran melihat Kai yang melepas sepatunya dan berjalan dengan kaki telanjang di atas salju yang tentunya sangat dingin. Ia hendak menghampiri dan menegur Kai , namun dicegah oleh Ayahanya dan megatakan pada Sulli untuk membiarkannya saja. Sulli menuruti apa yang dikatakan ayahnya.

Sulli adalah siswa kelas 2 di Neul Paran High School. Ia tinggal hanya berdua dengan ibunya setelah ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu. Ibunya adalah seorang pengusaha, ia memiliki sebuah rumah makan yang cukup terkenal di Gangnam-do. Dua bulan yang lalu, ibunya menikah dengan Tn. Park, namun karena urusan pekerjaan, Tn. Park dan putranya baru bisa tinggal di Seoul sekarang. Kai akan pindah ke sekolah yang sama dengan Sulli , kebetulan mereka juga berada di kelas yang sama.
---------
Paginya, mereka sarapan bersama untuk yang pertama kalinya. Tn dan Ny Park sedang berbincang-bincang mengenai bisnis mereka, Kai terlihat terburu-buru menghabiskan sarapannya begitupun dengan Sulli .
"aku sudah selesai, Aku berangkat lebih dulu", Kai mengambil tas di sebelahnya lalu pergi.
"Oppa, tunggu..kita berangkat bersama..Appa, Eomma,,kami berangkat,,!!", Sulli menghabiskan susu di gelasnya kemudian berlari mengejar Kai .
"Hati-hati", teriak eommanya.. Sementara Tn Park hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.

Sulli dan Kai berjalan menuju halte.
"Oppa, tunggu!!", teriak Sulli dari belakang yang sudah kelelahan mengejar Kai .
Kai bukannya berhenti dan menunggu Sulli , ia justru mempercepat jalannya.
Di atas bus, mereka dudub berjauhan. Pandangan mereka tertuju keluar jendela di samping mereka masing-masing. Sesekali Sulli menoleh dan memperhatikan Kai , namun Kai terlihat begitu larut dalam pikirannya. Raut wajahnya masih sama dengan biasanya, tanpa ekspresi.

Di dalam kelas, Kai terlihat tidak tertarik dengan pelajaran yang dibawakan Oh Sonsaengnim. Lagi-lagi ia mengarahkan pandangannya ke jendela, menatap lapangan yang sebagian tertutupi salju, dan pikirannya melayang entah kemana lagi. Sedangkan Sulli terlihat sedang bercanda dengan Seo Hyun. Id dan sahabtnya itu sepertinya juga tidak memperhatikan Oh Sonsaengnim. Kim Seo Hyun adalah sahabat Sulli . Mereka sudah dekat sejak masih duduk di bangku SMP. Karena tak ingin berpisah, mereka bahkan berencana untuk melanjutkan di perguruan tinggi yang sama. Bahkan setelah menikah nanti, mereka juga berencana untuk tinggal di lingkungan yang sama.

Saat jam istirahat, Sulli dan Seo Hyun hendak ke kantin. Sulli mengajak oppanya untuk pergi bersama, namun Kai menolak. Di Kantin, Sulli bertemu dengan Minho, sunbaenya. Choi Minho adalah chaebol, alias anak seorang pengusaha kaya raya. Ia tinggal di perumahan elit Cheondam-dong. Ia juga sangat tampan, memiliki tubuh atletis, kulit yang sedikit lebih gelap dari orang Korea pada umumnya, jenius, dan juga ramah. Semua yeoja bertekuk lutut padanya termasuk Sulli dan Seo Hyun . Hanya saja Seo Hyun tidak begitu berlebihan dan hanya menganggap Minho sebagai sosok idola saja. Lain halnya dengan Sulli , ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan Minho adalah 'cheoum sarang' a.k.a forst love Sulli .

Flashback...

Sulli berjalan memasuki perpustakaan yang terlihat begitu sepi. Hanya ada beberapa siswa ditemani dengan tumpukan buku-buku di depan mereka. Sulli menelusuri rak-rak buku satu per satu. Matanya tertuju pada satu buku yang menarik perhatiannya. Ia mencoba mengambil buku itu, namun sayang ia tidak cukup tinggi. Ia mencoba meraih buku itu lagi, dan akhirnya Ia bisa mandapatkannya. Tapi karena kurang hati-hati, beberapa buku jatuh dan menimpanya.
"Aw..",Sulli meringis kesakitan.
Seseorang datang membantunya berdiri dan memungut buku-buku yang berjatuhan di lantai lalu menyusunnya kembali.
"gwaenchanhayo?", tanya namja itu khawatir, ia adalah Minho.
"ah, ne.. Gamsahamnida", Sulli memegang dahinya yang terasa sakit.
"kau berdarah!!", kata Minho cemas.
Minho lalu mengajak Sulli ke taman sekolah dan duduk di salah satu bangku. Minho kemudan pergi sebentar, dan kembali membawa plester luka. Ia memakaikan plester itu di dahi Sulli .
"Pakai ini selama beberapa hari agar tidak meninggalkan bekas", kata minho menunjuk dahi Sulli . Sulli hanya mengangguk.
"kita belum kenalan, aku Minho, Choi Minho. Kelas 2-1", Minjo mengulurkan tangannya kepada Sulli .
"Choi Sulli, kelas 1-1", Sulli menjabat tangan Minho, lalu mereka tersnyum.
"wah, marga kita sama, sepertinya kita jodoh..hehehe", kata Minho bercanda. Sulli dan Minho kemudian tertawa bersama.
Flashback END ...

Sejak saat itu, Sulli dan Minho mulai akrab satu sama lain, dan sejak saat itu juga Sulli memendam rasa terhadap Minho. Hanya saja Sulli tidak pernah berniat mengungkapkan perasaannya yang sudah satu tahun dipendamnya itu. Seo Hyun tau semua perasaan Sulli terhadap Minho karena ia adalah tempat Sulli menumpahkan seua keluh kesahnya, layaknya seorang sahabat.
"boleh aku bergabung?", tanya Minho yang sudah duduk di sebelah Sulli.
"Boleh..Lagipula sunbae sudah duduk, meskipun dilarang sunbae juga tidak akan pergi kan?", celetuk Seo Hyun diikuti tawa mereka bertiga.
"akhir-akhir ini sunbae selalu bergabung dengan kami, apa ada sesuatu?", Selidik Seo Hyun,
"Ani,..wae?? Kalian keberatan jika aku bergabung?", tanya Minho merasa tidak enak.
"Kami sama sekali tidak keberatan, tapi sepertinya orang lain ada yang tidak suka.", jawab Seo Hyun sedikit memelankan suranya di akhir kalimatnya, Sulli hanya tersenyum mendengarnya.
"nugu?", tanya Minho tidak mengerti.
"Minho sunbae, para penggemarmu memperhatikan kita. Sepertinya mereka sangat tidak suka kau bergabbung dengan kami", bisik Sulli. Mereka bertiga lalu mengedarkan pandangannya ke yeoja-yeoja yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka. Tatapan mata merekaseolah berkata-'mati saja kau!!'-'apa-apaan mereka? Sok akrab!'-'mereka cari mati rupanya'-'jangan coba-coba merayu Minho Oppa'.. Dan masih banyak isyarat lainnya.
Seo Hyun dan Sulli bergidik ngeri..Minho hanya tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.. Mereka kemudian melanjutkan makan mereka sambil bercanda.

Di tempat lain, Kai berbaring di bangku yang ada di atap sekolah dengan earphone terpasang di telinganya. Matanya terpejam dan dahinya sedikit berkerut seperti sesorang yang sedang menahan sakit. Bening-bening kristal jatuh dari pelupuk matanya. Ia menangis. Saat ini Kai sedang meikirkan ibunya yang meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit yang dideritanya, kanker rahim. Ia begitu mencintai ibunya. Terlintas bayangan-bayangan kenangannya bersama ibunya. Hatinya begitu sakit karena merindukan ibunya. Dulu, Kai adalah anak yang periang dan juga manja, namun setelah ibunya tiada, Kai berubah. Ia tumbuh menjadi sosok namja yang dingin, cuek, dan pendiam. Tak lama kemudian, raut wajahnya perlahan-lahan kembali normal. Sepertinya ia tertidur.

Kelas sudah dimulai, tapi Kai belum juga masuk kedalam kelas. Sulli mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban. Sulli mencemaskan Oppanya, Ia melihat tas Kai yang masih ada di bangkunya.'Oppa, kau ssebenarnya kemana?', batinnya.
Kelas sudah selesai, Sulli membereskan perlengkapannya dan hendak pergi mencari Oppanya.
"Sulli-ah, Kai sudah kembali", kata Seo Hyun sambil menunjuk Kai yang baru saja masuk kedalam kelas.
Sulli menghampiri Oppanya, dan bertanya dia dari mana saja. Sedangkan Seo Hyun sudah pulang lebih dulu setelah pamit pada Kai dan Sulli. Tapi Sulli tidak mendapat jawaban apa-apa dari pertanyaannya, Kai hanya diam dan menatap Sulli sesaat dengan tatapan 'Jangan banyak tanya', kemudian berjalan keluar kelas sementara Sulli mengekor di belakangnya dengan wajah kesal.

Akhir pekan ini, Sulli, Minho da Seohyun berencana untuk liburan bersama di Yongpyong untuk enyambut tahun baru bersama. Yongpyong adalah Ski Resort atau tempat bermain ski yang cukup terkenal di Korea. Sulli juga hendak megajak Kai pergi bersama.
"Oppa, kau sudah tidur?", tanya Sulli begitu membuka pintu kama Kai dan melihat lampu kamar Kai sudah padam. Kai tidak menjawab Sulli, ia menarik selimutnya perlahan-lahan dan berpura-pura tidur.
Sulli menyalakan lampu kamar lalu berjalan mendekati tempat tidur Kai , ia menggoyang-goyangkan tubuh Kai . Ia tahu kalau Kai belum tidur. Kai kemudian bangun dan mengajak Sulli ke taman dekat rumah mereka. Sulli awalnya menolak karena di luar sangat dingin. Kai berkata ia akan ketaman sendiri jika Sulli tidak ingin ikut, karena cemas Sulli kemudian memutuskan untuk ikut.
Mereka duduk di ayunan yang ada di taman itu. Mereka terdian untuk sesaat. Kai membuka sepatu yang dikenakannya, Sulli heran melihat kelakuan Oppanya.
"Oppa, apa yag sedang kau lakukan? Kenapa oppa melepas sepatu? Apa tidak dingin?', rentetan pertanyaan keluar dari bibir manis Sulli. Kai hanya tersenyum mendengarnya.
"eoh?? Oppa, kau tersenyum? Yaakkk,, ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum", Sulli seolah-ola tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini kali pertama ia melihat Kai tersenyum setelah hampir 2 bulan tinggal bersama.
Senyum Kai begitu indah, bahkan mematikan. Senyum yang bisa membuat para yeoja jatuh cinta padanya, hanya saja senyum itu ia sembunyikan di balik sifat dinginnya.
Sulli memperhatikan wajah Kai yang muram kembali.
"Hari ini tepat 2 tahun ibuku meninggal", Kai mulai bercerita. Sulli terdiam mendengar perkataan Kai , ia ingin mendengar lebih banyak cerita dari Kai . Kai melanjutkan ceritanya..
"Sampai saat ini, aku bahkan belum bisa menerima kepergiannya. Aku begitu merindukannya, sangat merindukannya sampai rasanya ingin mati. Hatiku begitu sakit saat mengingatnya", Kai menyeka air matanya, Sulli juga menangis. "Saat hatiku sedang dingin dan rasaya seperti membeku, yang kulakukan adalah membuka sepatuku seperti ini. Dengan begitu yang merasakan dingin adalah kakiku, bukan hatiku lagi", lanjutnya.

Sulli terdiam, ia tidak ingin menyela pembicaraan Kai . Ia juga masih ingin edengar lebih banyak dari Kai , karena ini pertama kalinya Kai menceritakan tentang perasaannya pada orang lain. Namun sayang, Kai tidak ingin bercerita lebih banyak.
"Kajja..", ajak Kai pada Sulli seraya mengulurkan tangannya pada Sulli.
"eung? Kemana? Oppa sudah mau pulang?", sepertinya Sulli masih ingin duduk di sana. Kai menggeleng.
"lalu?", tanya Sulli tidak mengerti.
"temani Oppa jalan-jalan. Oppa mau keliling sebentar", Kai menarik tangan Sulli. Mereka kemudian berkeliling di sekitar rumah mereka. Kai masih menggenggam tangan Sulli, sementara tangannya yang satu memegang sepatunya. Kai berkeliling tanpa menggunakan alas kaki. Sulli memperhatikan kaki Kai , ia bertanya apa kaki Kai tidak kedinginan? Kai hanya menggeleng dan mempererat genggaman tangannya. Sulli tersenyum, begitupun dengan Kai . Di perjalanan Sulli menceritakan kalau Ia, Seohyun dan Minho berencana untuk ke Yongpyong akhir pekan ini. Ia meminta Kai untuk pergi bersama, Sulli berkata bukankah Kai sangat menyukai salju. Kai meng-iyakan permintaan Sulli, karena meskipun menolak Sulli pasti akan terus merengek dan melakukan segala cara untuk membujuknya agar pergi bersama. Mereka kembali ke rumah setelah cukup lama menikmati udara malam di luar.
--------------

Sulli, Kai , Seohyun dan Minho sedang dalam perjalanan menuju Yongpyong, mereka breangkat dengan menggunakan mobil Minho. Seohyun yang notabenenya orang yang memang tidak bisa diam dan ceplas-ceplos selalu membuat yang lain tertawa selama perjalanan dengan cerita-cerita lucunya yang tidak pernah habis. Perjalanan yang mereka lalui cukup jauh. Setelah cukup lelah bercanda, Seohyun dan Sulli tertidur.
Sulli tertidur di pundak Kai yang duduk bersamanya di jok belakang, awalnya Kai mendorong kepala Sulli menjauh dengan telunjuknya tapi tak lama kemudian kepala Sulli kembali bersandar di pundaknya, dan akhirnya Kai membiarkannya saja lalu ikut tertidur. Seohyun? Yeoja hyper aktif yang satu itu tidur dengan mulut yang sedikit menganga. Sesekali kepalanya terbentur ke jendela mobil dan membuatnya tertidur, namun hanya sesaat setelah itu ia tertidur kembali, Minho yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Minho merasa bosan, saat ini hanya dia seorang yang masih terjaga karena ia yang mengemudi. Ia memutar music di mobilnya lalu diam-diam memperhatikan Sulli lewat spion mobilnya.

Setelah sampai, mereka kemudian membawa barang bawaan mereka masing-masing ke penginapan. Sulli sekamar dengan Seohyun dan Minho sekamar dengan Kai . Setibanya di kamar, Sulli langsung membersihkan dirinya dan Seohyun langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Sedangkan keadaan di kamar Minho tidak jauh berbeda. Minho juga langsung membersihkan dirinya, sedangkan Kai hanya meletakkan tasnya lalu duduk sebentar. Tak lama kemudian ia meninggalkan kamar itu dan entah pergi kemana.

Saat malam tiba, mereka makan bersama di restaurant yang ada di penginapan tersebut, Seohyun mulai bercerita tentang pesta kembang api yang akan di adakan di sana saat malam pergantian tahun nanti.
"waahhh...Kembang apinya pasti sangat indah.... Sudah lama aku tidak melihat pesta kembang api", kata Sulli bersemangat.
"hmm..aku juga.. Kata orang, jika ada yeoja dan namja melihat pesta kembang api bersama, mereka akan menjadi pasangan. Akhir-akhir ini mitos itu sangat terkenal", Seohyun tak kalah bersemangat. Yang lain hanya tersenyum mendengarnya. Sulli menoleh ke arah Minho yang sedari tadi menatapnya diam-diam. Tatapan mereka bertemu membuat mereka salah tingkah, Kai menangkap sesuatu yang aneh di antara mereka. Ia lalu memperhatikan tingkah Sulli dan Minho, ia merasakan ada sesuau di antara mereka. Ia menyelesaikan makan malamnya lebih cepat lalu pergi meninggalkan mereka. Sulli dan yang lainnya hanya menatap kepergian Kai , mereka sudah terbiasa dengan sifat Kai yang dingin sehingga mereka cukup mengerti dan melanjutkan makan malam mereka.

Sulli sedang duduk di dekat api unggun yang mereka buat sambil menghangatkan tangannya. Mereka sedang menunggu pesta kembang api untuk pergantian tahun baru yang sudah tidak lama lagi. Minho menghampiri Sulli dan duduk di sebelahnya. Kekakuan yang terjadi saat makan malam tadi sepertinya sudah mencair kembali, senyum menghiasi wajah mereka. Seohyun dan Kai yang sedari tadi memperhatikan mereka ikut bergabung. Mereka memainkan beberapa permainan, mulai dari tebak-tebakan, da n beberapa permainan lainnya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan 23:45 KST.

Tiba-tiba Seohyun menarik tangan Kai dan memintanya untuk ikut dengannya membuat Kai tidak bisa berbuat apa-apa karena Seohyun menariknya begitu kuat dan hanya mengikuti kemana Seohyun pergi. Sulli dan Minho tersenyum melihatnya. Mereka mengira Seohyun menyukai Kai dan ingin melihat pesta kembang api berdua.
"Yak, kau mau membawaku kemana?", tanya Kai setelah cukup jauh diseret Seohyun. Seohyun juga sudah terlihat cukup lelah.
"Kai -ah, Mianhae karena sudah menyeretmu kesini.. Tapi aku melakukan ini karena aku punya alasan", kata Seohyun meminta maaf pada Kai .
"Geurae.. Kau memang seharusnya meminta maaf. Lalu apa alasanmu membawaku kemari?",Kai terlihat kesal pada Seohyun.
"hmm... Aku hanya ingin memberi mereka waktu untuk berdua. Kau tahu, mereka sebenarnnya sudah lama saling menyukai. Hanya saja tidak ada yang mau mengungkapkannya lebih dulu. Aku rasa ini adalah waktu yang sangat tepat..timing!! Lagipula dengan melihat pesta kembang api bersama, siapa tahu saja mereka akan enjadi pasangan suatu saat nanti? Iya kan?", kata Seohyun bersemangat.
"Mwo? Yak apa kau sudah gila? Eoh? Kau..", kata-kata Kai terpotong saat pesta kembang api sudah dimulai. Seohyun dan Kai terpesona dengan kendahan langit diatas mereka. Kembang apai dimana-mana membuat keadaan dissekeliling mereka menjadi terang. Kai tiba-tiba menyadari sesuatu. 'andwae!! Mereka tidak boleh melihat pesta kembang api bersama,,ANDWAE!!' batinnya. Ia mengingat kembali perkataan Seohyun tentang mitos itu. Ia berlari meninggalkan Seohyun yang tidak menyadari kepergiannya karena sangat serius melihat kembang api yang meletus di atasnya.

Kai berlari sekuat tenaganya ketempat dimana Minho dan Sulli berada. Ia benar-benar takut, takut jika Minho mengutarakan perasaannya kepada Sulli dan Sulli menerimanya. Ya, ia mencintai Sulli. Ia memiliki perasaan itu sejak pertama mereka bertemu. Ia mencoba mengontrol perasaannya dengan bersikap dingin pada Sulli. Namun, ia tidak bisa jika harus melihat Sulli dengan orang lain. Itu akan membuat hatinya lebih hancur. Sementara ditempat lain Minho dan Sulli begitu menikati pesta kembang api itu. Mereka masih duduk di tempat mereka sebelumnya. Sulli tak henti-hentinya berkata 'Waahh!!' .. Minho mngalihkan pandangannya ke wajah Sulli. Ia menatap wajah yeoja itu dalam-dalam. Selama ini, Minho juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Sulli padanya. Ia juga mulai menyukai Sulli sejak kejadan di perpustakaan itu. Hanya saja, Mnho tidak punya cukup keberanian untuk mengungkpkannya.
Sulli merasa diriya diperhatikan sejak tadi. Ia lalu menoleh ke arah Minho. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Sulli dan Minho langsung memalingkan wajah mereka masing-masing. Suasana kikuk kembali menemani mereka berdua.

"Sulli-ah, aku...ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu", Minho memberanikan diri untuk berbicara.
"apa?", Sulli merasa penasaran. Ia sepertinya tahu apa yang akan dikatakan Minho padanya.
"aku..ah..bagaimana mengatakannya? Sulli-ah, sebenarnya aku......", belum sempat Minho mengutarakan perasaannya, tiba-tiba Kai datang dan menarik Sulli pergi.
"Sulli...Sulli..Yakk..masih ada yang ingin kukatakan", teriak Minho. Ia hanya melihat kepergian Sulli dengan wajah yang kecewa. Kesempatan yang sudah lama dinantinya kini hilang begitu saja.
"Oppa...yakk...Apa yang Oppa lakukan?", Teriak Sulli kesal. Tangannya sakit karena Kai menariknya begitu keras. Kai tidak menjawab dan terus menarik Sulli pergi. Sulli menghempaskan tangan Kai yang memegangnya sangat kuat. Mereka kemudian berhenti. Kai berbalik menghadap Sulli yang terlihat marah.
"Yakk.. Oppa?? Kau ini kenapa? Kenapa oppa seperti ini padaku, eoh? Oppa sudah menghancurkan harapanku. Oppa tahu berapa lama aku menunggu saat ini? Oppa tahu berapa lama aku menunggu Minho Sunbae untuk mengutarakan perasaannya padaku?", Sulli berteriak marah. Ia benar-benar marah pada Kai yang seenaknya membawa Sulli pergi. Kai juga terlihat sangat marah. Wajahnya berubah menjadi merah padam membuat ekspresinya begitu menakutkan.

"Kau mau tahu alasan kenapa aku seperti ini? Eoh? Aku seperti ini karena aku membencimu. Aku membencimu karena kau adalah adikku, aku membenci kenyataan kau harus jadi adikku, mengapa harus kau? Mengapa bukan orang lain yang menjadi adikku? Eoh? JAWABB!!", Kai berteriak frustasi. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Sulli yang mendengarnya menjadi begitu sedih. Ia salah mengartikan perkataan Kai tadi. Ia mengira bahwa Kai benar-benar membencinya. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan kemudian terjatuh, seolahh-olah kakinya begitu berat menopang tubuhnya. Kai kaget melihat keadaan Sulli, emosinya sudah mereda. Setidaknya beban hatinya sudah berkurang. Ia mencoba membantu Sulli untuk berdiri, tapi Sulli justru menepis tangannya. Ia mengumpulkan semua tenaganya untuk berdiri.

"Oppa, mianhae.. Mian.. karena aku tidak bisa menjadi dongsaeng yang baik, mian ..kalau selama ini aku selalu merepotkanmu. Sulli janji mulai saat ini Sulli tidak akan mengganggu Oppa lagi", Sulli meminta maaf pada Kai dan membungkuk beberpaa kali lalu berlari meninggalkan Kai yang terpaku dengan kata-kata Sulli. Ia tahu bahwa saat ini Sulli sangat marah padanya, ia mengutuk dirinya yang sudah membuat hati yeoja yang dicintainya terluka.. Ia hanya bisa memandangi kepergian Sulli. Ia merasa sangat buruk karena harus memiliki perasaan yang tidak seharusnya pada Sulli, ia berfikir wajar saja jika Sulli kecewa padanya, ia merasa bahwa dirinya bukanlah kakak yang cukup baik untuk Sulli. Sulli terus berlari entah kemana.. Ia sendiri bahkan tidak tahu haru kemana, ia kemudian duduk di bawah pohon besar yang ada di sana. Ia memperbesar suara tangisannya karena tempat itu cukup sepi. Seseorang berjalan mendekatinya dan Sulli tidak menyadarinya. Orang itu berjongkok di hadapan Sulli dan menghapus air mata Sulli dengan tangannya. Orang itu adalah Minho, Ia mengikuti Sulli ketika tadi secara tidak sengaja melihat Sulli berlari sambil menangis. Sulli masih sesegukan, Minho kemudian duduk di sebelah Sulli. Minho sama sekali tidak bertanya mengapa Sulli menangis seperti itu. Minho merasa bahwa itu pasti sangat menyakitkan untuk Sulli dan ia tidak ingin mengungkitnya, Sulli akan menceritakannya sendiri jika itu memang perlu untuk ia ketahui. Mereka terdian cukup lama.

Setelah merasa cukup baikan, Sulli meminta Minho untuk menemaninya berkeliling sebentar. Minho menuruti keinginan Sulli. Sulli membuka sepatu yang dikenakannya lalu mulai berjalan. Minho yang melihatnya menjadi heran, ia bertanya apakah Sulli tidak merasa dingin? Sulli menggeleng. Minho kemudian merapatkan mantel yang dipakai Sulli. Ia mengambil sepatu yang di bawa Sulli lalu menggenggam tangan Sulli dan memasukkannya kedalam saku mantelnya. Sama seperti yang pernah dilakukan Kai pada Sulli.
"Setidaknya ini bisa membuat tanganmu sedikit lebih hangat", kata Minho tersenyum. Sulli menatap Minho heran dengan perlakuan Minho padanya saat ini. Mereka kemudian berjalan lagi.
"Aku pernah melihat seseorang melakukan hal yang sama sepertiku saat ini. Pertanyaan Sunbae sama dengan pertanyaanku saat itu", Minho hanya terdian mendengar perkataan Sulli. Ia menunggu Sulli melanjutkannya.
"Orang itu berkata 'Saat hatiku sedang dingin dan rasaya seperti membeku, yang kulakukan adalah membuka sepatuku seperti ini. Dengan begitu yang merasakan dingin adalah kakiku, bukan hatiku lagi...sangat konyol bukan? Tapi, sepertinya itu sedikit berhasil. Hatiku sudah terasa lebih hangat sekarang", Lanjutnya.

"hmm.. Sangat konyol. Orang mana yang memberitahumu cara bodoh seperti itu? Kau akan mai membeku perlahan-lahan jika terlalu lama berjalan tanpa alas kaki seperti itu", Jawab Minho sekenanya. Mereka berdua kemudian tertawa. suasana hati Sulli memang sudah cukup membaik. Minho menyuruh Sulli untuk memakai sepatunya lagi, tapi Sulli menolak. Ia berkata "sebentar Lagi", Minho hanya menuruti keinginannya. Minho semakin erat menggenggam tangan Sulli yang belum dilepasnya sedari tadi. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh dengan tatapan marah.

Siapakah orang itu? Apakah dai Kai? Seohyun? Atau mungkin orang lain? Lalu kenapa dia begiu marah?
--temukan jawabannya di 'Snow Heaven `Chapter 2`'--

To Be Continued...

``wahhh....akhirnya chapter 1 bisa di publish juga... Gmana readers?? Dapet feelnya gak?? Gaje ya?? Buat kelanjutannya imin bakal selesaiin secepatnya...
PLEASE commennya yaa... Comment kalian bakal jadi motivasi buat author menulis lebih baik danlebih rajin lagi...gomawo...
DON'T BE SILENT READER, PLAESE!!^^

DON'T COPAS!!---Take Out With Full Credits--





Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Sumber : http://yaqindlive.blogspot.com/2012/06/mengganti-tulisan-older-post-postingan.html#ixzz2WlKcPDGf