Snow Heaven
Author : Lee
Ae In a.k.a Inndahh Lestary <3
Title : Snow
Heaven
Cast : Choi
Sulli
Kim Jong In (KAI)
Choi Min Ho
Seo Jo hyun
Genre : Sad
Romance (a Little bit),friendly, Family, Angst (?)
Length :
Twoshoot? Belum ditentukan..
Rating
:Teeneger
Note :
hmmm..ini FF kedua author yang di publish di blog ini. Author terinspirasi
membuat FF ini dari Drama yang mimin lupa judulnya. Hmmm... tapi terinspirasi
bukan berarti mimin plagiat ya... yang jelas ceritanya akan ada banyak
perbedaan dengan drama yang pernah mimin liat. Mian kalo typo
bertebaran...DXDXD nggak usah banyak basa-basi, so check it out..
HAPPY
READING !! ^^
Cuaca di Seoul malam ini sangat dingin. Seluruh
permukaan jalanan tertutupi salju. Semua orang merapatkan mantel yang mereka
pakai agar tetap hangat. Di seberang jalan terlihat Choi Sulli dan ibunya, Ny.
Shin Min Young menghentikan taxi yang lewat dan menuju bandara. Setibanya di
bandara, mereka langsung berjalan menuju ruang tunggu.
"Eomma, kapan mereka tiba?", tanya Sulli
yang sudah terlihat tidak sabar menunggu.
"Sebentar lagi, mereka sudah hampir
tiba", kata ibunya setelah melihat arloji di tangannya.
Tak lama kemudian operator bandara mengumumkan
bahwa pesawat rute USA-Incheon sudah landing. Sulli dan ibunya langsung berdiri
dan mengedarkan pandangan mereka, mencari orang yang telah mereka tunggu
kedatangannya. Tak lama kemudian mata ibu Sulli tertuju pada dua namja yang
berjalan ke arah mereka. satu orang lelaki paruh baya, Park Hyun Sik dan satu
lagi namja yang masih muda, Kim Jong In, putra Tn. Park. KAI...begitulah orang
orang memanggil Jong in. Sulli dan ibunya tersenym bahagia menyambut kedatangan
keluarga baru mereka, Tn. Park membalas senyum mereka. Namun, lain halnya
dengan Kai, namja itu hanya melihat ke arah lain dengan ekspresi muka datar.
Dalam perjalanan pulang, mereka berbincang cukup
lama. Sesekali mereka tertawa jika ada pembahasan yang dianggap lucu. Tn. Park
duduk di jok depan sejajar dengan pengemudi taxi, sedangkan Sulli , Ny. Shin
dan Kai duduk di jok belakang. Kai terlihat tidak tertarik bergabung dalam
perbincangan mereka. Ia hanya menatap jalanan yang permukaannya tertutup salju dengan
tatapan hampa. Seolah-olah hanya raganya yang ada di tempat itu, namun tidak
dengan hati dan pikirannya. Diam-diam Sulli memperhatikan tingkah 'Oppa'
barunya itu. Ya, Oppa, meskipun mereka memiliki umur yang sama, naun tetap saja
Kai sedikit lebih tua dari Sulli .
Untuk sampai ke rumah Sulli , mereka harus berjalan
kaki sekitar ±200 m. Tn. Dan Ny. Park berjalan di depan, Sulli mengikuti mereka
dari belakang. Kai? Dia sudah tertinggal jauh di belakang karena berjalan
sangat pelan. Sulli memperhatikan kakaknya dari jauh, ia heran melihat Kai yang
melepas sepatunya dan berjalan dengan kaki telanjang di atas salju yang
tentunya sangat dingin. Ia hendak menghampiri dan menegur Kai , namun dicegah
oleh Ayahanya dan megatakan pada Sulli untuk membiarkannya saja. Sulli menuruti
apa yang dikatakan ayahnya.
Sulli adalah siswa kelas 2 di Neul Paran High
School. Ia tinggal hanya berdua dengan ibunya setelah ayahnya meninggal 3 tahun
yang lalu. Ibunya adalah seorang pengusaha, ia memiliki sebuah rumah makan yang
cukup terkenal di Gangnam-do. Dua bulan yang lalu, ibunya menikah dengan Tn.
Park, namun karena urusan pekerjaan, Tn. Park dan putranya baru bisa tinggal di
Seoul sekarang. Kai akan pindah ke sekolah yang sama dengan Sulli , kebetulan
mereka juga berada di kelas yang sama.
---------
Paginya, mereka sarapan bersama untuk yang pertama
kalinya. Tn dan Ny Park sedang berbincang-bincang mengenai bisnis mereka, Kai
terlihat terburu-buru menghabiskan sarapannya begitupun dengan Sulli .
"aku sudah selesai, Aku berangkat lebih
dulu", Kai mengambil tas di sebelahnya lalu pergi.
"Oppa, tunggu..kita berangkat bersama..Appa,
Eomma,,kami berangkat,,!!", Sulli menghabiskan susu di gelasnya kemudian
berlari mengejar Kai .
"Hati-hati", teriak eommanya.. Sementara
Tn Park hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.
Sulli dan Kai berjalan menuju halte.
"Oppa, tunggu!!", teriak Sulli dari
belakang yang sudah kelelahan mengejar Kai .
Kai bukannya berhenti dan menunggu Sulli , ia
justru mempercepat jalannya.
Di atas bus, mereka dudub berjauhan. Pandangan
mereka tertuju keluar jendela di samping mereka masing-masing. Sesekali Sulli
menoleh dan memperhatikan Kai , namun Kai terlihat begitu larut dalam
pikirannya. Raut wajahnya masih sama dengan biasanya, tanpa ekspresi.
Di dalam kelas, Kai terlihat tidak tertarik dengan
pelajaran yang dibawakan Oh Sonsaengnim. Lagi-lagi ia mengarahkan pandangannya
ke jendela, menatap lapangan yang sebagian tertutupi salju, dan pikirannya
melayang entah kemana lagi. Sedangkan Sulli terlihat sedang bercanda dengan Seo
Hyun. Id dan sahabtnya itu sepertinya juga tidak memperhatikan Oh Sonsaengnim.
Kim Seo Hyun adalah sahabat Sulli . Mereka sudah dekat sejak masih duduk di
bangku SMP. Karena tak ingin berpisah, mereka bahkan berencana untuk
melanjutkan di perguruan tinggi yang sama. Bahkan setelah menikah nanti, mereka
juga berencana untuk tinggal di lingkungan yang sama.
Saat jam istirahat, Sulli dan Seo Hyun hendak ke
kantin. Sulli mengajak oppanya untuk pergi bersama, namun Kai menolak. Di
Kantin, Sulli bertemu dengan Minho, sunbaenya. Choi Minho adalah chaebol, alias
anak seorang pengusaha kaya raya. Ia tinggal di perumahan elit Cheondam-dong.
Ia juga sangat tampan, memiliki tubuh atletis, kulit yang sedikit lebih gelap
dari orang Korea pada umumnya, jenius, dan juga ramah. Semua yeoja bertekuk
lutut padanya termasuk Sulli dan Seo Hyun . Hanya saja Seo Hyun tidak begitu
berlebihan dan hanya menganggap Minho sebagai sosok idola saja. Lain halnya
dengan Sulli , ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan Minho adalah 'cheoum
sarang' a.k.a forst love Sulli .
Flashback...
Sulli berjalan memasuki perpustakaan yang terlihat
begitu sepi. Hanya ada beberapa siswa ditemani dengan tumpukan buku-buku di
depan mereka. Sulli menelusuri rak-rak buku satu per satu. Matanya tertuju pada
satu buku yang menarik perhatiannya. Ia mencoba mengambil buku itu, namun
sayang ia tidak cukup tinggi. Ia mencoba meraih buku itu lagi, dan akhirnya Ia
bisa mandapatkannya. Tapi karena kurang hati-hati, beberapa buku jatuh dan
menimpanya.
"Aw..",Sulli meringis kesakitan.
Seseorang datang membantunya berdiri dan memungut
buku-buku yang berjatuhan di lantai lalu menyusunnya kembali.
"gwaenchanhayo?", tanya namja itu
khawatir, ia adalah Minho.
"ah, ne.. Gamsahamnida", Sulli memegang
dahinya yang terasa sakit.
"kau berdarah!!", kata Minho cemas.
Minho lalu mengajak Sulli ke taman sekolah dan
duduk di salah satu bangku. Minho kemudan pergi sebentar, dan kembali membawa
plester luka. Ia memakaikan plester itu di dahi Sulli .
"Pakai ini selama beberapa hari agar tidak
meninggalkan bekas", kata minho menunjuk dahi Sulli . Sulli hanya
mengangguk.
"kita belum kenalan, aku Minho, Choi Minho.
Kelas 2-1", Minjo mengulurkan tangannya kepada Sulli .
"Choi Sulli, kelas 1-1", Sulli menjabat
tangan Minho, lalu mereka tersnyum.
"wah, marga kita sama, sepertinya kita
jodoh..hehehe", kata Minho bercanda. Sulli dan Minho kemudian tertawa
bersama.
Flashback END ...
Sejak saat itu, Sulli dan Minho mulai akrab satu
sama lain, dan sejak saat itu juga Sulli memendam rasa terhadap Minho. Hanya
saja Sulli tidak pernah berniat mengungkapkan perasaannya yang sudah satu tahun
dipendamnya itu. Seo Hyun tau semua perasaan Sulli terhadap Minho karena ia
adalah tempat Sulli menumpahkan seua keluh kesahnya, layaknya seorang sahabat.
"boleh aku bergabung?", tanya Minho yang
sudah duduk di sebelah Sulli.
"Boleh..Lagipula sunbae sudah duduk, meskipun
dilarang sunbae juga tidak akan pergi kan?", celetuk Seo Hyun diikuti tawa
mereka bertiga.
"akhir-akhir ini sunbae selalu bergabung
dengan kami, apa ada sesuatu?", Selidik Seo Hyun,
"Ani,..wae?? Kalian keberatan jika aku
bergabung?", tanya Minho merasa tidak enak.
"Kami sama sekali tidak keberatan, tapi
sepertinya orang lain ada yang tidak suka.", jawab Seo Hyun sedikit
memelankan suranya di akhir kalimatnya, Sulli hanya tersenyum mendengarnya.
"nugu?", tanya Minho tidak mengerti.
"Minho sunbae, para penggemarmu memperhatikan
kita. Sepertinya mereka sangat tidak suka kau bergabbung dengan kami",
bisik Sulli. Mereka bertiga lalu mengedarkan pandangannya ke yeoja-yeoja yang
sejak tadi memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka. Tatapan mata
merekaseolah berkata-'mati saja kau!!'-'apa-apaan mereka? Sok akrab!'-'mereka
cari mati rupanya'-'jangan coba-coba merayu Minho Oppa'.. Dan masih banyak
isyarat lainnya.
Seo Hyun dan Sulli bergidik ngeri..Minho hanya
tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.. Mereka kemudian melanjutkan
makan mereka sambil bercanda.
Di tempat lain, Kai berbaring di bangku yang ada di
atap sekolah dengan earphone terpasang di telinganya. Matanya terpejam dan
dahinya sedikit berkerut seperti sesorang yang sedang menahan sakit.
Bening-bening kristal jatuh dari pelupuk matanya. Ia menangis. Saat ini Kai
sedang meikirkan ibunya yang meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit yang
dideritanya, kanker rahim. Ia begitu mencintai ibunya. Terlintas
bayangan-bayangan kenangannya bersama ibunya. Hatinya begitu sakit karena
merindukan ibunya. Dulu, Kai adalah anak yang periang dan juga manja, namun
setelah ibunya tiada, Kai berubah. Ia tumbuh menjadi sosok namja yang dingin,
cuek, dan pendiam. Tak lama kemudian, raut wajahnya perlahan-lahan kembali
normal. Sepertinya ia tertidur.
Kelas sudah dimulai, tapi Kai belum juga masuk
kedalam kelas. Sulli mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban. Sulli
mencemaskan Oppanya, Ia melihat tas Kai yang masih ada di bangkunya.'Oppa, kau
ssebenarnya kemana?', batinnya.
Kelas sudah selesai, Sulli membereskan
perlengkapannya dan hendak pergi mencari Oppanya.
"Sulli-ah, Kai sudah kembali", kata Seo
Hyun sambil menunjuk Kai yang baru saja masuk kedalam kelas.
Sulli menghampiri Oppanya, dan bertanya dia dari
mana saja. Sedangkan Seo Hyun sudah pulang lebih dulu setelah pamit pada Kai dan
Sulli. Tapi Sulli tidak mendapat jawaban apa-apa dari pertanyaannya, Kai hanya
diam dan menatap Sulli sesaat dengan tatapan 'Jangan banyak tanya', kemudian
berjalan keluar kelas sementara Sulli mengekor di belakangnya dengan wajah
kesal.
Akhir pekan ini, Sulli, Minho da Seohyun berencana
untuk liburan bersama di Yongpyong untuk enyambut tahun baru bersama. Yongpyong
adalah Ski Resort atau tempat bermain ski yang cukup terkenal di Korea. Sulli
juga hendak megajak Kai pergi bersama.
"Oppa, kau sudah tidur?", tanya Sulli
begitu membuka pintu kama Kai dan melihat lampu kamar Kai sudah padam. Kai
tidak menjawab Sulli, ia menarik selimutnya perlahan-lahan dan berpura-pura
tidur.
Sulli menyalakan lampu kamar lalu berjalan
mendekati tempat tidur Kai , ia menggoyang-goyangkan tubuh Kai . Ia tahu kalau
Kai belum tidur. Kai kemudian bangun dan mengajak Sulli ke taman dekat rumah
mereka. Sulli awalnya menolak karena di luar sangat dingin. Kai berkata ia akan
ketaman sendiri jika Sulli tidak ingin ikut, karena cemas Sulli kemudian
memutuskan untuk ikut.
Mereka duduk di ayunan yang ada di taman itu.
Mereka terdian untuk sesaat. Kai membuka sepatu yang dikenakannya, Sulli heran
melihat kelakuan Oppanya.
"Oppa, apa yag sedang kau lakukan? Kenapa oppa
melepas sepatu? Apa tidak dingin?', rentetan pertanyaan keluar dari bibir manis
Sulli. Kai hanya tersenyum mendengarnya.
"eoh?? Oppa, kau tersenyum? Yaakkk,, ini
pertama kalinya aku melihatmu tersenyum", Sulli seolah-ola tak percaya
dengan apa yang dilihatnya. Ini kali pertama ia melihat Kai tersenyum setelah
hampir 2 bulan tinggal bersama.
Senyum Kai begitu indah, bahkan mematikan. Senyum
yang bisa membuat para yeoja jatuh cinta padanya, hanya saja senyum itu ia
sembunyikan di balik sifat dinginnya.
Sulli memperhatikan wajah Kai yang muram kembali.
"Hari ini tepat 2 tahun ibuku meninggal",
Kai mulai bercerita. Sulli terdiam mendengar perkataan Kai , ia ingin mendengar
lebih banyak cerita dari Kai . Kai melanjutkan ceritanya..
"Sampai saat ini, aku bahkan belum bisa
menerima kepergiannya. Aku begitu merindukannya, sangat merindukannya sampai
rasanya ingin mati. Hatiku begitu sakit saat mengingatnya", Kai menyeka
air matanya, Sulli juga menangis. "Saat hatiku sedang dingin dan rasaya
seperti membeku, yang kulakukan adalah membuka sepatuku seperti ini. Dengan
begitu yang merasakan dingin adalah kakiku, bukan hatiku lagi", lanjutnya.
Sulli terdiam, ia tidak ingin menyela pembicaraan
Kai . Ia juga masih ingin edengar lebih banyak dari Kai , karena ini pertama
kalinya Kai menceritakan tentang perasaannya pada orang lain. Namun sayang, Kai
tidak ingin bercerita lebih banyak.
"Kajja..", ajak Kai pada Sulli seraya
mengulurkan tangannya pada Sulli.
"eung? Kemana? Oppa sudah mau pulang?",
sepertinya Sulli masih ingin duduk di sana. Kai menggeleng.
"lalu?", tanya Sulli tidak mengerti.
"temani Oppa jalan-jalan. Oppa mau keliling
sebentar", Kai menarik tangan Sulli. Mereka kemudian berkeliling di
sekitar rumah mereka. Kai masih menggenggam tangan Sulli, sementara tangannya
yang satu memegang sepatunya. Kai berkeliling tanpa menggunakan alas kaki.
Sulli memperhatikan kaki Kai , ia bertanya apa kaki Kai tidak kedinginan? Kai
hanya menggeleng dan mempererat genggaman tangannya. Sulli tersenyum, begitupun
dengan Kai . Di perjalanan Sulli menceritakan kalau Ia, Seohyun dan Minho
berencana untuk ke Yongpyong akhir pekan ini. Ia meminta Kai untuk pergi
bersama, Sulli berkata bukankah Kai sangat menyukai salju. Kai meng-iyakan
permintaan Sulli, karena meskipun menolak Sulli pasti akan terus merengek dan melakukan
segala cara untuk membujuknya agar pergi bersama. Mereka kembali ke rumah
setelah cukup lama menikmati udara malam di luar.
--------------
Sulli, Kai , Seohyun dan Minho sedang dalam
perjalanan menuju Yongpyong, mereka breangkat dengan menggunakan mobil Minho.
Seohyun yang notabenenya orang yang memang tidak bisa diam dan ceplas-ceplos
selalu membuat yang lain tertawa selama perjalanan dengan cerita-cerita lucunya
yang tidak pernah habis. Perjalanan yang mereka lalui cukup jauh. Setelah cukup
lelah bercanda, Seohyun dan Sulli tertidur.
Sulli tertidur di pundak Kai yang duduk bersamanya
di jok belakang, awalnya Kai mendorong kepala Sulli menjauh dengan telunjuknya
tapi tak lama kemudian kepala Sulli kembali bersandar di pundaknya, dan
akhirnya Kai membiarkannya saja lalu ikut tertidur. Seohyun? Yeoja hyper aktif
yang satu itu tidur dengan mulut yang sedikit menganga. Sesekali kepalanya
terbentur ke jendela mobil dan membuatnya tertidur, namun hanya sesaat setelah
itu ia tertidur kembali, Minho yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan
kepalanya sambil tersenyum. Minho merasa bosan, saat ini hanya dia seorang yang
masih terjaga karena ia yang mengemudi. Ia memutar music di mobilnya lalu
diam-diam memperhatikan Sulli lewat spion mobilnya.
Setelah sampai, mereka kemudian membawa barang
bawaan mereka masing-masing ke penginapan. Sulli sekamar dengan Seohyun dan
Minho sekamar dengan Kai . Setibanya di kamar, Sulli langsung membersihkan
dirinya dan Seohyun langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Sedangkan keadaan di
kamar Minho tidak jauh berbeda. Minho juga langsung membersihkan dirinya,
sedangkan Kai hanya meletakkan tasnya lalu duduk sebentar. Tak lama kemudian ia
meninggalkan kamar itu dan entah pergi kemana.
Saat malam tiba, mereka makan bersama di restaurant
yang ada di penginapan tersebut, Seohyun mulai bercerita tentang pesta kembang
api yang akan di adakan di sana saat malam pergantian tahun nanti.
"waahhh...Kembang apinya pasti sangat
indah.... Sudah lama aku tidak melihat pesta kembang api", kata Sulli
bersemangat.
"hmm..aku juga.. Kata orang, jika ada yeoja
dan namja melihat pesta kembang api bersama, mereka akan menjadi pasangan.
Akhir-akhir ini mitos itu sangat terkenal", Seohyun tak kalah bersemangat.
Yang lain hanya tersenyum mendengarnya. Sulli menoleh ke arah Minho yang sedari
tadi menatapnya diam-diam. Tatapan mereka bertemu membuat mereka salah tingkah,
Kai menangkap sesuatu yang aneh di antara mereka. Ia lalu memperhatikan tingkah
Sulli dan Minho, ia merasakan ada sesuau di antara mereka. Ia menyelesaikan
makan malamnya lebih cepat lalu pergi meninggalkan mereka. Sulli dan yang
lainnya hanya menatap kepergian Kai , mereka sudah terbiasa dengan sifat Kai
yang dingin sehingga mereka cukup mengerti dan melanjutkan makan malam mereka.
Sulli sedang duduk di dekat api unggun yang mereka
buat sambil menghangatkan tangannya. Mereka sedang menunggu pesta kembang api
untuk pergantian tahun baru yang sudah tidak lama lagi. Minho menghampiri Sulli
dan duduk di sebelahnya. Kekakuan yang terjadi saat makan malam tadi sepertinya
sudah mencair kembali, senyum menghiasi wajah mereka. Seohyun dan Kai yang
sedari tadi memperhatikan mereka ikut bergabung. Mereka memainkan beberapa
permainan, mulai dari tebak-tebakan, da n beberapa permainan lainnya. Tak
terasa waktu sudah menunjukkan 23:45 KST.
Tiba-tiba Seohyun menarik tangan Kai dan memintanya
untuk ikut dengannya membuat Kai tidak bisa berbuat apa-apa karena Seohyun
menariknya begitu kuat dan hanya mengikuti kemana Seohyun pergi. Sulli dan
Minho tersenyum melihatnya. Mereka mengira Seohyun menyukai Kai dan ingin
melihat pesta kembang api berdua.
"Yak, kau mau membawaku kemana?", tanya
Kai setelah cukup jauh diseret Seohyun. Seohyun juga sudah terlihat cukup
lelah.
"Kai -ah, Mianhae karena sudah menyeretmu
kesini.. Tapi aku melakukan ini karena aku punya alasan", kata Seohyun
meminta maaf pada Kai .
"Geurae.. Kau memang seharusnya meminta maaf.
Lalu apa alasanmu membawaku kemari?",Kai terlihat kesal pada Seohyun.
"hmm... Aku hanya ingin memberi mereka waktu
untuk berdua. Kau tahu, mereka sebenarnnya sudah lama saling menyukai. Hanya
saja tidak ada yang mau mengungkapkannya lebih dulu. Aku rasa ini adalah waktu
yang sangat tepat..timing!! Lagipula dengan melihat pesta kembang api bersama,
siapa tahu saja mereka akan enjadi pasangan suatu saat nanti? Iya kan?",
kata Seohyun bersemangat.
"Mwo? Yak apa kau sudah gila? Eoh?
Kau..", kata-kata Kai terpotong saat pesta kembang api sudah dimulai.
Seohyun dan Kai terpesona dengan kendahan langit diatas mereka. Kembang apai
dimana-mana membuat keadaan dissekeliling mereka menjadi terang. Kai tiba-tiba
menyadari sesuatu. 'andwae!! Mereka tidak boleh melihat pesta kembang api
bersama,,ANDWAE!!' batinnya. Ia mengingat kembali perkataan Seohyun tentang
mitos itu. Ia berlari meninggalkan Seohyun yang tidak menyadari kepergiannya
karena sangat serius melihat kembang api yang meletus di atasnya.
Kai berlari sekuat tenaganya ketempat dimana Minho
dan Sulli berada. Ia benar-benar takut, takut jika Minho mengutarakan
perasaannya kepada Sulli dan Sulli menerimanya. Ya, ia mencintai Sulli. Ia
memiliki perasaan itu sejak pertama mereka bertemu. Ia mencoba mengontrol
perasaannya dengan bersikap dingin pada Sulli. Namun, ia tidak bisa jika harus
melihat Sulli dengan orang lain. Itu akan membuat hatinya lebih hancur.
Sementara ditempat lain Minho dan Sulli begitu menikati pesta kembang api itu.
Mereka masih duduk di tempat mereka sebelumnya. Sulli tak henti-hentinya
berkata 'Waahh!!' .. Minho mngalihkan pandangannya ke wajah Sulli. Ia menatap
wajah yeoja itu dalam-dalam. Selama ini, Minho juga merasakan hal yang sama
dengan apa yang dirasakan Sulli padanya. Ia juga mulai menyukai Sulli sejak
kejadan di perpustakaan itu. Hanya saja, Mnho tidak punya cukup keberanian
untuk mengungkpkannya.
Sulli merasa diriya diperhatikan sejak tadi. Ia
lalu menoleh ke arah Minho. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Sulli dan Minho
langsung memalingkan wajah mereka masing-masing. Suasana kikuk kembali menemani
mereka berdua.
"Sulli-ah, aku...ada sesuatu yang ingin
kukatakan padamu", Minho memberanikan diri untuk berbicara.
"apa?", Sulli merasa penasaran. Ia
sepertinya tahu apa yang akan dikatakan Minho padanya.
"aku..ah..bagaimana mengatakannya? Sulli-ah,
sebenarnya aku......", belum sempat Minho mengutarakan perasaannya,
tiba-tiba Kai datang dan menarik Sulli pergi.
"Sulli...Sulli..Yakk..masih ada yang ingin
kukatakan", teriak Minho. Ia hanya melihat kepergian Sulli dengan wajah
yang kecewa. Kesempatan yang sudah lama dinantinya kini hilang begitu saja.
"Oppa...yakk...Apa yang Oppa lakukan?",
Teriak Sulli kesal. Tangannya sakit karena Kai menariknya begitu keras. Kai
tidak menjawab dan terus menarik Sulli pergi. Sulli menghempaskan tangan Kai
yang memegangnya sangat kuat. Mereka kemudian berhenti. Kai berbalik menghadap
Sulli yang terlihat marah.
"Yakk.. Oppa?? Kau ini kenapa? Kenapa oppa
seperti ini padaku, eoh? Oppa sudah menghancurkan harapanku. Oppa tahu berapa
lama aku menunggu saat ini? Oppa tahu berapa lama aku menunggu Minho Sunbae
untuk mengutarakan perasaannya padaku?", Sulli berteriak marah. Ia
benar-benar marah pada Kai yang seenaknya membawa Sulli pergi. Kai juga
terlihat sangat marah. Wajahnya berubah menjadi merah padam membuat ekspresinya
begitu menakutkan.
"Kau mau tahu alasan kenapa aku seperti ini?
Eoh? Aku seperti ini karena aku membencimu. Aku membencimu karena kau adalah
adikku, aku membenci kenyataan kau harus jadi adikku, mengapa harus kau?
Mengapa bukan orang lain yang menjadi adikku? Eoh? JAWABB!!", Kai
berteriak frustasi. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Sulli yang
mendengarnya menjadi begitu sedih. Ia salah mengartikan perkataan Kai tadi. Ia
mengira bahwa Kai benar-benar membencinya. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan
kemudian terjatuh, seolahh-olah kakinya begitu berat menopang tubuhnya. Kai
kaget melihat keadaan Sulli, emosinya sudah mereda. Setidaknya beban hatinya
sudah berkurang. Ia mencoba membantu Sulli untuk berdiri, tapi Sulli justru
menepis tangannya. Ia mengumpulkan semua tenaganya untuk berdiri.
"Oppa, mianhae.. Mian.. karena aku tidak bisa
menjadi dongsaeng yang baik, mian ..kalau selama ini aku selalu merepotkanmu.
Sulli janji mulai saat ini Sulli tidak akan mengganggu Oppa lagi", Sulli
meminta maaf pada Kai dan membungkuk beberpaa kali lalu berlari meninggalkan
Kai yang terpaku dengan kata-kata Sulli. Ia tahu bahwa saat ini Sulli sangat
marah padanya, ia mengutuk dirinya yang sudah membuat hati yeoja yang dicintainya
terluka.. Ia hanya bisa memandangi kepergian Sulli. Ia merasa sangat buruk
karena harus memiliki perasaan yang tidak seharusnya pada Sulli, ia berfikir
wajar saja jika Sulli kecewa padanya, ia merasa bahwa dirinya bukanlah kakak
yang cukup baik untuk Sulli. Sulli terus berlari entah kemana.. Ia sendiri
bahkan tidak tahu haru kemana, ia kemudian duduk di bawah pohon besar yang ada
di sana. Ia memperbesar suara tangisannya karena tempat itu cukup sepi.
Seseorang berjalan mendekatinya dan Sulli tidak menyadarinya. Orang itu
berjongkok di hadapan Sulli dan menghapus air mata Sulli dengan tangannya.
Orang itu adalah Minho, Ia mengikuti Sulli ketika tadi secara tidak sengaja
melihat Sulli berlari sambil menangis. Sulli masih sesegukan, Minho kemudian
duduk di sebelah Sulli. Minho sama sekali tidak bertanya mengapa Sulli menangis
seperti itu. Minho merasa bahwa itu pasti sangat menyakitkan untuk Sulli dan ia
tidak ingin mengungkitnya, Sulli akan menceritakannya sendiri jika itu memang
perlu untuk ia ketahui. Mereka terdian cukup lama.
Setelah merasa cukup baikan, Sulli meminta Minho
untuk menemaninya berkeliling sebentar. Minho menuruti keinginan Sulli. Sulli
membuka sepatu yang dikenakannya lalu mulai berjalan. Minho yang melihatnya
menjadi heran, ia bertanya apakah Sulli tidak merasa dingin? Sulli menggeleng.
Minho kemudian merapatkan mantel yang dipakai Sulli. Ia mengambil sepatu yang
di bawa Sulli lalu menggenggam tangan Sulli dan memasukkannya kedalam saku
mantelnya. Sama seperti yang pernah dilakukan Kai pada Sulli.
"Setidaknya ini bisa membuat tanganmu sedikit
lebih hangat", kata Minho tersenyum. Sulli menatap Minho heran dengan
perlakuan Minho padanya saat ini. Mereka kemudian berjalan lagi.
"Aku pernah melihat seseorang melakukan hal
yang sama sepertiku saat ini. Pertanyaan Sunbae sama dengan pertanyaanku saat
itu", Minho hanya terdian mendengar perkataan Sulli. Ia menunggu Sulli
melanjutkannya.
"Orang itu berkata 'Saat hatiku sedang dingin
dan rasaya seperti membeku, yang kulakukan adalah membuka sepatuku seperti ini.
Dengan begitu yang merasakan dingin adalah kakiku, bukan hatiku lagi...sangat
konyol bukan? Tapi, sepertinya itu sedikit berhasil. Hatiku sudah terasa lebih
hangat sekarang", Lanjutnya.
"hmm.. Sangat konyol. Orang mana yang
memberitahumu cara bodoh seperti itu? Kau akan mai membeku perlahan-lahan jika
terlalu lama berjalan tanpa alas kaki seperti itu", Jawab Minho sekenanya.
Mereka berdua kemudian tertawa. suasana hati Sulli memang sudah cukup membaik.
Minho menyuruh Sulli untuk memakai sepatunya lagi, tapi Sulli menolak. Ia
berkata "sebentar Lagi", Minho hanya menuruti keinginannya. Minho
semakin erat menggenggam tangan Sulli yang belum dilepasnya sedari tadi. Tanpa
mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh dengan tatapan
marah.
Siapakah orang itu? Apakah dai Kai? Seohyun? Atau
mungkin orang lain? Lalu kenapa dia begiu marah?
--temukan jawabannya di 'Snow Heaven `Chapter 2`'--
To Be Continued...
``wahhh....akhirnya chapter 1 bisa di publish
juga... Gmana readers?? Dapet feelnya gak?? Gaje ya?? Buat kelanjutannya imin
bakal selesaiin secepatnya...
PLEASE commennya yaa... Comment kalian bakal jadi
motivasi buat author menulis lebih baik danlebih rajin lagi...gomawo...
DON'T BE
SILENT READER, PLAESE!!^^
DON'T
COPAS!!---Take Out With Full Credits--

Tidak ada komentar :
Posting Komentar